Tarunaglobalnews.com Simalungun – Gelombang perlawanan rakyat mulai memuncak di Kabupaten Simalungun. Dipicu oleh dugaan pengelolaan anggaran yang "gelap" dan kondisi daerah yang kian memprihatinkan, Forum Pemuda Simalungun di bawah komando Rifki Muflih Rambe bersama elemen masyarakat lintas sektor menyatakan siap menggelar aksi massa besar-besaran.
Aksi yang diprediksi akan melumpuhkan pusat pemerintahan ini dijadwalkan berlangsung pada Senin, 6 April 2026, dengan titik tumpu utama di Kantor DPRD Kabupaten Simalungun.
Anggaran 1,1 Miliar Jadi Sorotan Tajam
Bukan tanpa alasan kemarahan ini meledak. Tuntutan utama massa adalah transparansi mutlak atas penggunaan anggaran DPRD sebesar Rp1,1 miliar yang dinilai sarat kejanggalan. Di tengah jeritan warga soal ekonomi, alokasi dana sebesar itu dianggap melukai rasa keadilan jika tidak dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Dalam keterangannya, Rifki Muflih Rambe menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar soal angka, melainkan akumulasi dari kegagalan fungsi pengawasan DPRD Simalungun.
"Kami datang membawa suara rakyat yang lelah dengan infrastruktur yang hancur, pelayanan publik yang lamban, dan kesejahteraan yang hanya jadi janji manis. DPRD jangan bungkam saat anggaran rakyat dipertanyakan!" tegas Rifki.
Rapor Merah Pembangunan Daerah
Selain soal anggaran, massa aksi akan membawa daftar "dosa" pembangunan di Simalungun, di antaranya:
1. Infrastruktur Terbengkalai: Banyak jalan utama yang rusak parah namun luput dari perbaikan.
2. Pelayanan Publik Lemah: Birokrasi yang berbelit dan tidak menyentuh kebutuhan dasar warga.
3. Kesejahteraan Terabaikan: Minimnya solusi nyata dari para wakil rakyat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat bawah.
4. Tekanan Moral dan Tuntutan Terbuka Aksi ini dirancang sebagai bentuk tekanan moral yang kuat. Massa menuntut penjelasan transparan secara langsung di depan publik dan mendesak solusi konkret, bukan sekadar janji di atas kertas.
Senin mendatang akan menjadi pembuktian: apakah para wakil rakyat di DPRD Simalungun berani menghadapi rakyatnya sendiri, atau justru semakin memperlebar jarak dengan mereka yang memberi mandat?
Penulis : Rifki M Rambe

0 Komentar