Simalungun — Harapan rakyat Simalungun untuk melihat perubahan nyata kini berada di titik nadir. Lima bulan telah berlalu sejak aksi besar-besaran aliansi mahasiswa dan masyarakat pada 2 September 2025, namun komitmen yang diucapkan Bupati Simalungun di depan massa tak lebih dari sekadar "pemanis bibir" untuk meredam amarah warga.
Hingga hari ini, Rabu (28/1/2026), belum ada satu pun langkah konkret atau kebijakan transparan yang diambil Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk merealisasikan poin-poin tuntutan terkait isu sosial, lingkungan, dan kebijakan daerah yang telah disepakati sebelumnya.
Flashback ke September 2025, Kantor Bupati Simalungun menjadi saksi bisu saat Bupati secara terbuka menyetujui seluruh poin tuntutan massa. Saat itu, sorak-sorai harapan membuncah; rakyat percaya bahwa pemimpin mereka akhirnya berpihak pada kepentingan jelata.
Namun, kenyataan pahit justru terpampang di depan mata. Kantor Bupati yang seharusnya menjadi dapur lahirnya solusi, kini dianggap sebagai simbol kebuntuan birokrasi.
"Ini adalah bentuk pelecehan terhadap perjuangan rakyat. Pola lama kembali berulang: janji manis di atas mimbar saat didesak massa, tapi nihil realisasi setelah suasana tenang,"
Absennya transparansi dan tidak adanya progres yang jelas dinilai sebagai bentuk pengabaian sengaja terhadap aspirasi publik. Pemerintah daerah dituding sengaja mengulur waktu (buying time) dan berharap masyarakat lupa akan tuntutan tersebut.
Ketiadaan tindak lanjut ini memicu pertanyaan besar: Apakah suara rakyat hanya dianggap sebagai kebisingan yang harus diredam sementara, bukan mandat yang harus dijalankan?
Kekecewaan yang menumpuk kini mulai mengkristal menjadi amunisi perlawanan baru. Aliansi mahasiswa menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat janji-janji tersebut membusuk di laci meja kekuasaan.
"Janji adalah utang, dan kekuasaan bukan alat untuk menipu rakyat. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah nyata, jangan salahkan jika tekanan publik akan kembali mengguncang Pematang Raya dengan gelombang yang lebih besar,"
Kini, bola panas ada di tangan Bupati Simalungun. Publik menunggu: apakah Pemerintah akan membuktikan komitmennya, atau justru membiarkan kepercayaan masyarakat terkubur bersama janji-janji yang diingkari?
#Aliansi_Mahasiswa_dan_Masyarakat_Simalungun

0 Komentar