Breaking News

6/recent/ticker-posts

Tak Ingin Bernasib Seperti Nikel, Inalum Desak Moratorium Smelter Aluminium


Rajawalipos.space Jakarta — Perusahaan aluminium milik negara Indonesia, PT Inalum, pada Selasa (31/3) meminta pemerintah memberlakukan moratorium pembangunan pabrik alumina dan aluminium baru karena kekhawatiran kelebihan pasokan serta tekanan terhadap cadangan bauksit nasional.

Indonesia yang kaya sumber daya tengah mendorong pengembangan industri logam dalam negeri, termasuk melalui kebijakan larangan ekspor mineral mentah untuk menarik investasi ke fasilitas pengolahan domestik.

Seperti dikutip Mining, pesatnya investasi pada smelter nikel telah menjadikan Indonesia eksportir terbesar produk nikel, dan para analis menilai investor kini mulai melirik sektor aluminium.

Namun, Inalum khawatir sektor aluminium akan mengalami masalah serupa dengan nikel, seperti kelebihan pasokan yang menekan harga global serta dampak lingkungan, ujar Direktur Utama Melati Sarnita di hadapan DPR.

Berdasarkan data pasar, Inalum memperkirakan kapasitas produksi alumina Indonesia dapat melonjak menjadi 29,8 juta ton dari sekitar 9 juta ton saat ini jika seluruh proyek yang direncanakan mulai beroperasi.

Sementara itu, kapasitas produksi aluminium primer diperkirakan meningkat menjadi 14,9 juta ton dari 1,13 juta ton saat ini setelah seluruh proyek selesai.

Hal ini akan mendorong kebutuhan bauksit hingga 94 juta ton per tahun, naik dari sekitar 36 juta ton yang dibutuhkan saat ini.

Ekspansi kapasitas tersebut berpotensi menekan cadangan bauksit Indonesia, bahkan dapat memperpendek umur cadangan terbukti menjadi sekitar 10 tahun.

Melati menegaskan bahwa sebagai pelaku industri nasional, Inalum mengharapkan ketersediaan bauksit dapat menopang operasional smelter hingga 30 tahun.

Ia juga menambahkan bahwa ketidakpastian permintaan aluminium global, ditambah ekspansi agresif dari Indonesia, berisiko menekan harga di pasar internasional. (Yusuf Sinaga)

Posting Komentar

0 Komentar